CT VALUE PADA TEST PCR COVID19, apa artinya ?

Apa yang Dimaksud dengan CT Value pada Hasil Tes PCR?

Pandemi COVID-19 di Indonesia masih belum penunjukkan episode akhir. Menurut catatan Satuan Tugas Penanganan COVID-19 angka kenaikan kasus positif virus corona masih terus terjadi.

Update terakhir per 24 Juni 202  Indonesia pada laman covid19.go.id menampilkan data sbb : Positif 2.053.995, Sembuh  1.826.504, Meninggal  55.949 tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Nah, berbicara mengenai COVID19 yang masih menjadi PR di Negara kita ini, akhir-akhir ini sering kita mendengan istilah yang agak asing di telinga awam, tetapi mulai sering diperbincangkan diantara para penderita dan keluarganya, yaitu angka CT Value, apa sih sebenernya CT value itu dan mengapa menjadi bahan pembicaraan yang hangat seputar COVID19 ini.

CT Value merupakan singkatan dari cycle threshold value. Menurut pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo, CT Value adalah nilai yang didapat dari hasil tes swab polymerase chain reaction (PCR).

Nilai ini bisa menggambarkan banyaknya partikel virus yang ada di dalam rongga pernapasan seseorang.

Meski tidak berhubungan secara langsung, CT Value juga bisa menggambarkan banyaknya partikel virus pada pasien penderita Covid-19. Karenanya, CT Value kerap dipakai untuk menggambarkan risiko penularan maupun tingkat keparahan gejala.

Secara sederhana, CT Value adalah banyaknya jumlah siklus yang dihasilkan dalam mencari materi genetik virus dari sampel lendir atau hasil swab pasien COVID-19. Pertanyaannya, siklus apa yang dimaksud?

Agar lebih jelas maka kita perlu memahami metode real-time RT-PCR, pemeriksaan yang mengambil sampel swab cairan dari hidung serta tenggorok. Setelah diambil, sampel ini dimasukkan ke dalam tabung khusus berisi cairan untuk menjaga kestabilan materi genetik virus (VTM/viral transport medium) dan dibawa ke laboratorium.

Petugas kesehatan mengambil sampel lendir seorang warga saat tes usap RT PCR COVID-19 massal di Kantor Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis (7/1/2021). (Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha)

Tahap selanjutnya adalah sampel akan melalui prosedur ekstraksi, yaitu proses menggunakan kit tertentu. Tujuannya untuk mengeluarkan materi genetik virus yang dikehendaki.

Virus yang menyebabkan COVID-19 merupakan virus RNA, sehingga dalam mendeteksi virus ini perlu didahului proses perubahan atau konversi dari RNA menjadi DNA.

Setelah itu, akan dilakukan amplifikasi atau perbanyakan target materi genetik menggunakan mesin real-time PCR. Mesin ini menggunakan fluoresensi sehingga setiap terjadi amplifikasi, akan terbentuk sinyal fluoresensi yang ditangkap oleh detektor sepanjang proses PCR berlangsung.

Petugas kesehatan memeriksa sampel tes usap PCR di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Tangerang, Banten, Kamis (5/11/2020). (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan)

Proses amplifikasi tersebut terjadi berulang-ulang hingga sekitar 40 siklus. Sinyal fluoresensi yang dihasilkan berbanding lurus atau proporsional terhadap amplifikasi yang terjadi.

Pada satu titik, jumlah sinyal fluoresensi pada proses amplifikasi tersebut mencapai nilai minimal untuk dapat diinterpretasikan sebagai hasil positif. Nah, titik tersebut dinamakan cycle threshold value atau nilai CT (CT Value).

Arti Angka di Balik CT Value

Angka yang tertera pada CT Value inilah yang menjadi perbincangan kita. Menunjukkan apakah angka tersebut ? Angka hasil CT Value itu ternyata berbanding terbalik dengan konsentrasi genetik virus.

Semakin besar angka pada CT Value, maka semakin sedikit konsentrasi virus pada sampel tubuh pasien. Artinya, semakin tinggi CT Value, maka semakin rendah kemungkinan virus untuk menyebabkan infeksi.

Hal sebaliknya juga berlaku, semakin sedikit angka CT Value, maka materi virus pada tubuh masih terbilang banyak. Alhasil, kemungkinan virus mampu menyebabkan infeksi masih besar.

Menurut beberapa jurnal, virus dari sampel yang memiliki CT Value lebih dari 34, tidak menimbulkan infeksi (infeksius). Nah, hal inilah yang kini membuat sejawat dokter menggunakan CT Value untuk menentukan penularan penyakit lebih lanjut.

Berapa nilai normal dari CT Value ?

Dalam edaran Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) disebutkan, hasil pemeriksaan real time PCR dinyatakan positif bila terdapat akumulasi sinyal fluoresens.

CT value merupakan jumlah siklus yang diperlukan hingga sinyal fluoresens melampaui atau melewati ambang (threshold).

Nah, nilai CT berbanding terbalik secara proporsional dengan jumlah asam nukleat target pada sampel. Semakin rendah nilai CT, makin tinggi jumlah asam nukleat target.

Pada umumnya, batas ambang nilai CT adalah 40, dengan interpretasi sebagai berikut:

Nilai CT Interpretasi
nilai Ct 29 – 37 positif, yakni ada target asam nukleat dalam jumlah sedang.
nilai Ct 38 – 40 positif lemah, yakni target asam nukleat dalam jumlah sedikit, dan ada kemungkinan kontaminasi yang berasal dari lingkungan.

Namun demikian, menurut pernyataan PAMKI, beberapa kit reagen mencantumkan threshold yang berlainan, misalnya 41, 35, atau 38. Itu sebabnya, interpretasi hasil PCR harus disesuaikan kembali.

Beberapa studi membuktikan, ada hubungan antara infektivitas viral load dengan nilai CT swab test. Salah satunya yang dilakukan Bullard, J. dkk pada 2020. Kesimpulannya, pasien tidak infeksius lagi pada hasil real time PCR dengan nilai Ct ≥24.

Studi lainnya dilakukan Bordon, dkk tahun 2020. Dia mengungkapkan, tenaga kesehatan dengan nilai CT 38 dan sudah 29 hari sejak mendapat hasil PCR positif, dinyatakan sudah tidak bisa menularkan lagi.

Lantas, apakah itu artinya nilai CT yang tinggi menunjukkan pasien COVID-19 tidak lagi infeksius?

Meski bisa menjadi salah satu petunjuk, nilai CT belum bisa dijadikan satu-satunya pijakan untuk menentukan seorang pasien virus corona masih bisa menularkan atau tidak. Ada beberapa hal yang tidak bisa dideteksi oleh nilai CT, yaitu:

  • Belum ada penelitian menyeluruh dan komprehensif yang dapat diandalkan untuk membuktikan korelasi langsung antara tingkat keparahan penyakit, infeksi, dan nilai CT.
  • Nilai CT berbeda dari satu kit ke kit lainnya. Nilai CT yang dihasilkan sangat bergantung pada hal-hal teknis, seperti metode pengambilan sampel, jumlah materi genetik dalam sampel, metode ekstraksi yang digunakan, serta kit PCR yang dipakai.
  • Pasien dalam tahap gejala awal mungkin menunjukkan nilai CT yang tinggi kemudian dapat berubah. Dalam kasus seperti itu, nilai CT tidak bisa dijadikan patokan.
  • Tingkat keparahan penyakit COVID-19 sangat bergantung pada faktor viral load. Beberapa pasien dengan viral load rendah mungkin terjangkit penyakit yang sangat parah karena memicu reaksi imun. Karena itu, nilai CT yang tinggi tidak dapat menjadi patokan.
  • Uji real time PCR yang dilakukan saat ini bersifat kualitatif. Nilai CT dapat memberikan perkiraan kasar tentang viral load. Namun, standar yang lebih khusus masih diperlukan untuk pengujian kuantitatif.

Kini Anda sudah tahu arti CT dalam test swab. Yang perlu diingat, nilai CT swab test adalah data yang penting bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk mengambil keputusan. Akan tetapi, angka tersebut belum bisa dijadikan satu-satunya indikator.

Referensi:

  1. American Association for Clinical Chemistry. Diakses pada 2021. SARS-CoV-2 Cycle Threshold: A Metric That Matters (or Not)
  2. Bordon,Jose,et al. 2020.The Importance of Cycle Threshold Values in the Evaluation of Patients with Persistent Positive PCR for SARS-CoV-2: Case Study and Brief Review
  3. Bullard, Robert.D.2020. An approach to lifting self-isolation for health care workers with prolonged shedding of SARS-CoV-2 RNA
  4. The Lancet. Diakses pada 2021. Ct values and infectivity of SARS-CoV-2 on surfaces
  5. Halodoc. Diakses pada 25 Juni 2021. Apa yang Dimaksud dengan CT Value pada Hasil Tes PCR?